Dakwah, Antara Sarana dan Tujuan

Dakwah, Antara Sarana dan Tujuan

Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi

Dunia persilatan lagi ramai tentang dakwah seorang ustadz di panggung keren yang memantik kritik dan komentar dari sebagian ustadz lain dan netizen. Bahkan ada yang tidak terkontrol komentarnya sehingga terjatuh dalam dosa.

Dakwah kepada kebaikan adalah ibadah dan tujuan yang mulia. Masing-masing kita dituntut untuk berdakwah sesuai kemampuannya dengan metode dan sarana yang ada selama tidak bertentangan dengan agama.

Secara tinjauan fiqih, Hukum asal sarana dakwah itu boleh selama tidak bertentangan dengan syariat, sekalipun sarana itu tidak ada di zaman Nabi, bisa dengan kajian, tabligh akbar, bedah buku, seminar. Alat yang digunakan juga bisa dengan lewat pesantren, buku, mikrofun, kaset, radio, tv, medsos, dan lain sebagainya, sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam kaidah fiqih dikatakan:

الوسائل لها أحكام المقاصد

Sarana memiliki hukum tujuannya.
(Lihat Hukmul Intima’ hlm. 160-161, Bakr Abu Zaid dan Al Hujajul Qawiyyah hlm. 83 Abdus Salam Barjas)

Dakwah itu juga tidak terikat dengan waktu dan tempat, bisa malam, pagi, siang, sore malam, seperti yang dilakukan para Nabi dan Rasul.

Dakwah itu juga tidak terbatas tempatnya, bisa di masjid, di kelas, di rumah, di hotel, di aula, di vila, di gunung, di laut, di udara, di penjara dan lain sebagainya. Dahulu Nabi para salaf juga pernah dakwah di masjid, di rumah, di penjara, di salju, di ruang terbuka dan lain sebagainya.

Semua itu karena perintah dakwah itu umum. Sehingga bisa fleksibel sesuai perkembangan zaman, segmen jamaah, dan lain sebagainya dengan catatan penting yaitu sarana tersebut tidak bertentangan dengan syariat. Dalam kaidah fiqih dikatakan:

الأحكام تتغير بتغير الزمان والمكان

Hukum itu bisa berubah sesuai perubahan waktu dan tempat.

Namun bicara tempat yang paling afdhal untuk kajian dan dakwah tentu adalah masjid karena masjid adalah rumah Allah dan tempat terbaik di muka bumi. Oleh karenanya kebiasaan salaf dahulu mengadakan majlis ilmu di masjid-masjid walaupun terkadang juga di tempat yang lain seperti rumah, saat perang, bahkan ada yang di atas salju.

Syeikh Ibnu Utsaimin berkata: Ilmu yang paling berkah pengaruhnya pada jiwa, amal dan manhaj adalah ilmu di masjid. Alangkah berkahnya ilmu di masjid-masjid karena masjid di dalamnya kebaikan yang banyak. Oleh karennya aku katakan tentang diriku sendiri: ilmu yang hakiki adalah ilmu yang aku dapatkan dari masayikh di masjid walau aku juga mengambil faidah dari universitas di bidang lain, tapi ilmu yang kokoh dan diberkahi adalah yang didapatkan dari masayikh di masjid. (Majmu Fatawa wa Rasail 26/202)

Saya teringat salah satu faidah penting yang pernah ana dapatkan dari Syeikh Akram Ziyadah (murid Syeikh Al Albani) saat daurah para da’i di vila dan aula (tapi gratis gak bayar sama sekali…he), beliau pernah menukil ucapan guru beliau di Yaman yaitu Syeikh Muhammad bin Ismail Al ‘Amrani saat ditanya apa perbedaan antara ilmu para salaf dan khalaf maka beliau menjawab:

كان السلف يطلبون العلم في الجامع والخلف يطلبونه في الجامعة وليس الذكر كالأنثى

Para salaf menuntut ilmu di Masjid sedangkan kholaf mencarinya di Jamiah (universitas). Tentu berbeda antara pria dan wanita. (Masjid pria, jamiah wanita).

Tentu maksud beliau adalah yang lebih utama menuntut ilmu di masjid, namun bukan berarti melarang belajar di jamiah.

Maka menurut hemat kami, mari kita para dai dan ustadz saling berhusnu dhan antar sesama. Bagi sebagian ustadz yang memilih kajian di hotel atau aula dan panggung keren mungkin dia punya pertimbangan matang terutama mengenalkan orang awam dan segmen jamaah orang kota zaman sekarang dengan catatan tidak bertentangan dengan syariat atau mengandung kemunkaran, muatan materi dakwahnya bagus dan paling inti ikhlas lillahi taala bukan untuk popularitas atau komersil dunia.

Dan bagi sebagian ustadz yang mengkritik kita juga berhusnu dzon bahwa itu tanda cintanya akan dakwah ini dengan mengarahkan kepada tempat yg lebih utama yaitu masjid dan mengingatkan kita agar tidak tergiur dengan kemewahan sarana dan menutup celah membisniskan dakwah yang mulia ini dan lain sebagainya.

Pro kontra dengan sesuatu yang baru pasti ada, awal munculnya ustadz ngisi di tv ada pro dan kontra, dulu awal ada daurah di hotel dan vila juga pro kontra bahkan sampai sekarang, namun yang paling penting mari kita sikapi dengan dewasa, hati yang bersih, menjaga lisan, dan berbaik sangka kepada semua ustadz kita agar tetap ada yang terkontrol tidak kebablasan.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua. Mari rapatkan barisan, jangan suka berisik di medsos.

Status ini bukan untuk memperkeruh suasana. Kami hanya menyampaikan pandangan kami sebatas ilmu kami yang minim ini. Anda boleh setuju dan boleh tidak setuju. Semua kita akan bertanggung jawab tentang ucapan, komentar dan perbuatan kita masing-masing. Barakallahu fikum

Baca Juga Artikel Terbaru

Leave a Comment